Olahan Status Para ‘Tokoh’ Jadikan Medsos Panglima Opini

DEMAK – Hari Pers Nasional di tingkat Kabupaten Demak diperingati sederhana, Sabtu (2/2). Dalam kegiatan berkemasan seminar Wawasan Kebangsaan bertema ‘Media Massa Perekat Persatuan Bangsa’ itu masyarakat diajak untuk terlibat dalam jurnalisme yang santun dan cerdas, sehingga berujung terwujudnya kondisi stabiltas dan kerukunan berbangsa.

Pada kesempatan itu Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS mengatakan, jika dilihat dari pengemasan olahan cuitan atau status para  ‘tokoh’,  media sosial cenderung menjadi panglima opini.

Kalau pun media sosial kemudian menjadi bagian dari demokratisasi,  kekuatan hukum harus tetap menjadi pengendali. Sehingga tidak muncul banalitas atau perkubuan kehidupan berbangsa.

Sementara media tanpa disadari, atau ada juga yang dengan sadar, menjadi ruang pertarungan perebutan opini antara kekuatan-kekuatan kepentingan yang terdikotomi.

Efeknya media tak jarang disorot sebagai penyebab silangcengkarutnya kehidupan bangsa. Sehingga muncul pertanyaan, media menjadi refleksi kondisi bangsa? Atau kondisi politik bangsa yang merefleksi sikap media?

Maka itu menurut Amir Machmud, ada tiga matra media. Kejernihan media akan terjaga, ketika ada akuntabilitas, kepercayaan publik, serta disiplin verifikasi.

Turut hadir sebagai narasumber acara gelaran Kantor Kesbangpol dan Linmas berkerjasama PWI Demak tersebut adalah Sekda dr H Singgih Setyono. Serta Kepala Kantor Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Demak H Agus Herawan, yang menyampaikan, begitu pentingnya peran media massa sehingga karena berita negara bisa hancur atau bahkan semakin kuat.

Di sisi lain, Staf Ahli Bupati Demak Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Hj Muliana menyampaikan, dalam setiap derap pembangunan media massa sangat berperan penting. Antara lain turut menyampaikan informasi berbagai program pemerintah yang bermanfaat bagi masyarakat.  Namun diakui atau tidak, sekarang marak informasi namun sebenarnya berita bohong atau hoaks. Yang tujuan utamanya menggiring opini publik, kepada hal-hal negatif.

Sehubungan itu Muliana mengajak masyarakat dan semua komponen bangsa menjadi bagian dari jurnalisme santun dan cerdas. Yakni dengan tidak menyebarkan berita yg belum pasti kebenarannya. Selalu cek dan ricek setiap informasi yang diterima. Serta hanya melanjutkan ke orang lain jika memang ada nilai manfaatnya.

“Perbedaan itu kebhinnekaragaman. Maka itu mari bersikap cerdas, dan jangan mudah terpancing informasi atau kabar yang belum tentu kebenaranya,” pungkasnya.

Sumber: http://wawasan.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *