1

MENJAGA KEUTUHAN NKRI MELALUI KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

2

Kerukunan umat beragama baik di dalam internal maupun eksternal umat beragama menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam menjaga keutuhan NKRI. Terjadinya beberapa peristiwa yang memantik potensi konflik sosial di tanah air salah satunya disebabkan karena isu agama.

Untuk mempertahankan keutuhan NKRI dalam skup lokal khususnya di wilayah Kabupaten Demak, Pemerintah Kabupaten Demak melalui Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Demak menggelar acara Dialog FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) dengan tema “Penguatan Kebhinekaan dalam Menjaga KeutuhanNKRI”, pada Hari Selasa tanggal 9 Mei 2017 pukul 09.00 s.d 12.00 WIB bertempat di Aula Kecamatan Sayung.

Acara ini dilatarbelakangi dengan kondisi Indonesia yang sekarang sedang memasuki titik rawan, dimana kasus yang terkait SARA kembali menguncang kebhinekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada acara yang dihadiri 100 (seratus) orang peserta yang berasal dari jajaran pengurus FKUB Kabupaten Demak, unsur tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda serta perwakilan aparatur desa se Kecamatan Sayung, Wakil Bupati Demak Bapak Drs3. H. Joko Sutanto dalam sambutannya menyampaikan bahwa dirinya sangat menyesalkan kondisi yang dialami oleh Indonesia yang menyangkut kerukunan umat beragama menjadi terguncang. Wakil Bupati mengajak masyarakat khususnya masyarakat wilayah Kabupaten Demak untuk meyakini bahwa para pendiri Bangsa Indonesia sudah membuat kesepakatan bahwa Negara Indonesia merupakan Negara Republik Indonesia dengan ke-Bhinneka Tunggal Ikaan.

“Kita tidak dapat bisa memilih kita lahir didomisili kota dan provinsi mana serta keyakinan atau agama kita apa, tetapi kita tetap yakin bahwa kita ingin menjadi orang yang baik dan selalu mengisi kehidupan kita untuk menjadi dan berbuat kebaikan,” jelas Wakil Bupati Demak. Lebih lanjut Wakil Bupati menyampaikan bahwa jajaran Pemerintah Kabupaten Demak bertekad untuk selalu konsisten dalam menjaga kemajemukan yang ada dalam masyarakat. Konsistensi ini ditunjukkan dengan menjaga kerukunan antar etnis maupun kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Demak.

Setelah sambutan Wakil Bupati, dilanjutkan dengan penyampaian paparan dari Drs. H. Abdullah Syifa’ (Ketua FKUB Kabupaten Demak), yang antara lain menyampaikan bahwa terjadinya konflik sosial, merajalelanya korupsi merupakan persoalan serius yang harus dicarikan solusinya. Peran tokoh agama yang diharapkan dapat mencerdaskan spiritual menjadi sangat penting. Oleh karena itu FKUB melalui perwakilan di masing-masing agama harus dapat menularkan kerukunan di internal umat dan menjaga aspek sakralisasi pelaksanaan tradisi keberagamaan masing-masing dengan tetap berpegang pada kaidah agama.

Paparan selanjutnya oleh Bapak Sugianto, S.IP, MM (Camat Sayung) dengan tema Peran Camat dalam Penyelenggaraan Kerukunan Umat Beragama. Dalam paparannya disebutkan bahwa negara berkewajiban memfasilitasi masyarakat yang hidup di dalam wilayahnya untuk dapat hidup rukun berdampingan. Pancasila sebagai dasar negara berusaha mewujudkan kerukunan penduduk termasuk di dalamnya kerukunan dalam beragama.Kerukunan umat beragama sangat diperlukan, agar bisa menjalani kehidupan beragama dan bermasyarakat di Indonesia ini dengan rasa damai, sejahtera, dan jauh dari kecurigaan kepada kelompok-kelompok lain, dengan begitu harus dilakukan kerja sama antaragama, seperti memberantas kemiskinan, memerangi kebodohan, mencegah korupsi, membentuk pemerintahan yang bersih, serta memajukan bangsa dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Paparan terakhir disampaikan oleh Bapak Drs. Taufik Rifa’i, M.Si (Kepala Kantor Kesbangpolinmas Kabupaten Demak) dengan fokus pada pembahasan mengenai wawasan kebangsaan dan rasa kebangsaan. Bahwa wawasan Kebangsaan hakekatnya adalah hasrat yang sangat kuat untuk bersama mengatasi perbedaan dan diskriminasi. Wawasan kebangsaan di Indonesia dimulai sejak kesadaran kebangsaan yakni pada berdirinya Boedi Utomo tanggal 20 Mei 1908. Berkembang cepat dan meluas hingga menghasilkan sumpah pemuda tahun 1928 dan puncaknya proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Sebelum acara berakhir, terlebih dahulu dilaksanakan dialog dan tanya jawab yang dipandu oleh Bapak Anwar Masdari, S.IP, MM (Plt Kasi Kesbangpol pada Kantor Kesbangpolinmas) selaku moderator. Di akhir acara, moderator menyampaikan point kesimpulan bahwa setiap komponen bangsa harus menciptakan keharmonisan dan kerukunan sebab hubungan yang harmonis menjadi kunci penting untuk memperkuat kebhinekaan, keberhasilan pembangunan nasional dan tetap tegaknya NKRI. Perbedaan sebagai sunatullah tidak menghalangi untuk saling menghormati, menerima dan bekerjasama, perbedaan sebagai rahmat akan mendorong untuk saling menghormati, menerima dan bekerjasama.(nph & af)

Posted in berita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>